Menjaga Nadi Kota: Gerakan Kolektif Menghidupkan Kembali Sungai Ciliwung
Setelah puluhan tahun dikenal sebagai sungai tercemar, Ciliwung perlahan bangkit lewat gerakan konservasi kolektif. Komunitas, pemerintah, dan aktivis lingkungan kini bahu-membahu merestorasi sungai ini, membuktikan bahwa kota megapolitan masih punya harapan untuk hidup berdampingan dengan alam.
Selama bertahun-tahun, Sungai Ciliwung menjadi simbol degradasi lingkungan urban Jakarta: air hitam, bau menyengat, dan tumpukan sampah rumah tangga. Namun sejak 2013, arus perubahan mulai mengalir lewat gerakan akar rumput yang bertujuan memulihkan ekosistem sungai. Kini, di beberapa titik, Ciliwung bahkan sudah mulai jadi tempat edukasi lingkungan dan wisata alam berbasis komunitas.
Sungai Ciliwung melintasi 13 kota dan kabupaten, dengan panjang 119 km dari mata air di Puncak hingga bermuara di Teluk Jakarta. Berdasarkan data Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSC) tahun 2022, lebih dari 60% pencemaran sungai berasal dari limbah domestik, terutama plastik, deterjen, dan sisa makanan. Hal ini membuat Ciliwung menjadi salah satu dari 10 sungai terpolusi di Indonesia menurut laporan KLHK tahun 2021.
Namun perubahan mulai terlihat berkat kerja kolaboratif antara komunitas seperti Komunitas Ciliwung Depok, Ciliwung Institute, dan warga setempat. Melalui program restorasi mikrohabitat, mereka membersihkan bantaran sungai, menanam vegetasi penyangga, hingga melakukan edukasi ke sekolah-sekolah.
“Dulu kami hanya ingin sungai bersih agar tidak banjir, tapi sekarang kami sadar Ciliwung harus dirawat sebagai ekosistem hidup,” kata Nur Hidayat, Ketua Komunitas Ciliwung Depok. Komunitas ini telah menanam lebih dari 5.000 pohon bambu dan trembesi di bantaran sungai sejak 2018.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mulai berperan aktif. Lewat program Revitalisasi Ciliwung yang dijalankan bersama Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW), sudah ada lebih dari 12 km bantaran yang ditata ulang menjadi taman dan jalur pejalan kaki sejak 2021. Salah satu hasilnya dapat dilihat di kawasan Kalibata dan Condet, di mana Ciliwung kini menjadi tempat warga berolahraga pagi dan belajar mengenal vegetasi lokal.
Yang menarik, Sungai Ciliwung ternyata juga masih menyimpan keanekaragaman hayati yang sempat terlupakan. Hasil riset LIPI tahun 2020 mencatat, di beberapa titik Ciliwung masih ditemukan ikan lokal seperti ikan gabus, lele dumbo, dan ikan wader, meski dalam jumlah terbatas. Ada pula populasi burung air seperti blekok sawah dan trinil, yang menandakan potensi pemulihan habitat secara bertahap.
Namun tantangan tetap besar. Masih banyak wilayah hulu hingga hilir yang belum tersentuh revitalisasi, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya memilah sampah di rumah masih rendah. Meski demikian, gerakan #JagaCiliwung yang digagas berbagai komunitas berhasil menarik lebih dari 2.000 relawan dalam setahun terakhir.
“Kalau dulu kita berpikir sungai itu tempat buang limbah, sekarang kita ubah jadi tempat belajar dan hidup bersama alam,” tambah Nur Hidayat.
Kisah Sungai Ciliwung bukan sekadar cerita tentang air dan sampah. Ini adalah gambaran bahwa penyelamatan lingkungan di perkotaan bisa terjadi jika dilakukan bersama-sama. Ciliwung perlahan bangkit sebagai bukti bahwa kota sebesar Jakarta pun masih bisa punya sungai yang hidup—dan menghidupi.
Komentar
Posting Komentar