Telaga Biru Cisoka, Permata Air di Tengah Bekas Tambang
Tak banyak yang tahu bahwa di balik kawasan industri Cisoka, Tangerang, tersembunyi danau alami berwarna biru kehijauan yang memikat. Telaga Biru Cisoka menjadi contoh transformasi bekas tambang pasir menjadi destinasi ekowisata yang terus tumbuh lewat peran komunitas lokal dan kesadaran ekowisata.
Di tengah lanskap padat dan panasnya wilayah Cisoka, Kabupaten Tangerang, berdiri tenang sebuah danau berwarna biru kehijauan yang tak disangka-sangka: Telaga Biru Cisoka. Tempat ini dulunya adalah area bekas galian pasir yang terbengkalai sejak awal 2000-an. Namun kini, danau tersebut menjelma menjadi destinasi wisata alam yang banyak dikunjungi para pencari ketenangan maupun fotografer lanskap.
Warna air telaga yang unik terbentuk dari proses alami. Menurut hasil pengamatan geologi dari mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2023, warna biru yang mencolok berasal dari pantulan langit serta kandungan mineral silika dan kedalaman air yang mencapai lebih dari 20 meter di titik terdalam. Tidak seperti danau buatan biasa, Telaga Biru memiliki tiga cekungan utama yang terbentuk dari bekas lubang tambang, yang kini terisi air hujan selama dua dekade.
Komunitas Sahabat Telaga Cisoka menjadi pihak yang paling aktif mengelola kawasan ini secara mandiri. Mereka menjaga kebersihan, membuka jalur tracking sederhana, serta memberikan edukasi bagi wisatawan yang datang. “Kami sadar kawasan ini dulunya rusak karena eksploitasi. Sekarang, giliran kami yang memulihkannya pelan-pelan,” ujar Ahmad Rasyid, koordinator komunitas.
Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kabupaten Tangerang, kunjungan ke Telaga Biru meningkat signifikan sejak pandemi mereda, dengan rata-rata 1.000 pengunjung setiap akhir pekan. Namun, peningkatan kunjungan ini juga menimbulkan risiko baru: tumpukan sampah plastik dan limbah makanan yang dibawa pengunjung.
Menanggapi kondisi tersebut, komunitas lokal bersama relawan dari berbagai kampus menggelar program Jaga Telaga setiap bulan. Kegiatan ini meliputi bersih-bersih kawasan, penanaman pohon peneduh di sekitar jalur masuk, dan penyuluhan soal ekowisata kepada pengunjung. “Kami ingin telaga ini tetap indah tanpa harus menjadi tempat yang rusak karena over-tourism,” kata Rasyid.
Akses menuju Telaga Biru cukup mudah. Dari pusat Kota Tangerang hanya membutuhkan waktu 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi, dan lokasi telaga bisa dicapai setelah berjalan kaki sekitar 700 meter dari area parkir. Meski fasilitas masih terbatas, nuansa alami dan warna air yang dramatis menjadi daya tarik utama.
Salah satu pengunjung, Diana (27), yang datang dari Jakarta mengatakan, “Saya tidak menyangka ada tempat seindah ini di Tangerang. Rasanya seperti menemukan potongan danau di Kalimantan, tapi dekat dari rumah.”
Telaga Biru Cisoka mungkin tak sepopuler Danau Toba atau Situ Patenggang, tapi justru itulah daya pikatnya. Tempat ini masih sunyi, belum tersentuh banyak tangan, dan menyimpan potensi luar biasa sebagai destinasi ekowisata berbasis komunitas. Selama pengunjung tetap menjaga adab dan etika terhadap alam, maka birunya telaga ini akan terus menyambut generasi pencinta alam berikutnya.
Komentar
Posting Komentar