Sungai yang Lebih Bersih, Hati yang Lebih Tenang: Semangat Relawan Hijau


Di tengah kondisi sungai-sungai Jakarta yang semakin tercemar, semangat komunitas lingkungan seperti Clean Up Jakarta Day menjadi pelita harapan. Dengan kerja kolektif dan aksi nyata, mereka membuktikan bahwa menjaga sungai adalah bagian dari menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup bersama.

Jakarta, 27 Mei 2025 — Di tengah hiruk pikuk ibu kota, sekelompok warga terlihat menyusuri tepian Kali Ciliwung di kawasan Condet, Jakarta Timur, memungut sampah yang menyangkut di rerumputan dan batang pohon. Mereka adalah bagian dari komunitas Clean Up Jakarta Day (CUJD), sebuah gerakan relawan yang sudah lebih dari satu dekade aktif dalam kegiatan bersih-bersih lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung pada Minggu pagi itu merupakan bagian dari kampanye bulanan bertajuk “Ciliwung Clean & Calm”, dengan misi menjadikan sungai lebih bersih dan menciptakan ruang alami yang bisa memberi ketenangan bagi warga Jakarta. Dalam satu hari aksi, mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 2,8 ton sampah yang sebagian besar terdiri dari plastik sekali pakai dan limbah rumah tangga.

“Kami percaya, saat lingkungan bersih, hati juga lebih tenang. Sungai bukan tempat sampah — dia sumber kehidupan,” ujar Hendra Wijaya, koordinator lapangan CUJD, saat diwawancarai di lokasi.

Menurut laporan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta tahun 2024, dari 13 sungai utama di Jakarta, 9 di antaranya dalam status tercemar berat, terutama Kali Ciliwung, Sunter, dan Pesanggrahan. Polusi terbesar berasal dari sampah domestik, air limbah rumah tangga, serta sedimentasi limbah bangunan.

Komunitas CUJD, yang awalnya hanya menggelar acara tahunan, kini aktif melakukan aksi mingguan bersama puluhan relawan dari kalangan pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, dan bahkan warga asing yang menetap di Jakarta. Dengan dukungan beberapa perusahaan lewat program CSR dan kerja sama dengan Pemprov DKI, mereka berhasil memperluas dampak kampanye.

“Kami mengusung prinsip act local, think global. Bersih-bersih sungai itu langkah kecil, tapi punya efek besar kalau dilakukan bersama-sama,” tutur Ratri Andayani, salah satu relawan senior CUJD yang juga aktif dalam edukasi lingkungan sekolah dasar di Jakarta Selatan.

Selain membersihkan sungai, kegiatan mereka juga mencakup pendidikan lingkungan: workshop memilah sampah, pelatihan pembuatan eco-brick, hingga pengenalan teknologi biopori dan lubang resapan. CUJD bekerja sama dengan sekolah, komunitas warga, dan organisasi kemanusiaan untuk menyebarkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kebersihan air dan alam.

Namun tak selalu mudah. Beberapa tantangan yang mereka hadapi antara lain kurangnya partisipasi warga sekitar, tumpang tindih regulasi wilayah sungai, hingga terbatasnya dukungan logistik dari pemerintah. Meski begitu, semangat para relawan tidak padam.

“Kami bukan superhero, tapi kami bisa bikin perbedaan. Bersihnya sungai bikin hati plong, dan itu bisa menular,” kata Hendra sambil tersenyum.

Gerakan seperti Clean Up Jakarta Day membuktikan bahwa solusi atas pencemaran sungai tidak selalu harus mahal atau rumit. Dengan semangat gotong royong, literasi lingkungan, dan kerja konsisten, sungai bisa kembali bersih — dan hati masyarakat pun lebih tenang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini