Kali Mati di Tengah Kota: Mengapa Jakarta Kehilangan Sirkulasi Alaminya?
Di tengah Jakarta yang terus tumbuh ke atas dan ke samping, aliran-aliran air yang dulu hidup kini tinggal nama. Sungai-sungai kecil itu berubah jadi saluran mampet—terkubur beton, terlupa fungsinya.
Jakarta – Satu demi satu, kali-kali kecil di Jakarta mati secara perlahan. Bukan karena kering, tapi karena kehilangan fungsinya. Air tak lagi mengalir sebagaimana mestinya, melainkan tergenang, hitam, dan penuh endapan. Sebagian bahkan tak lagi dikenali sebagai sungai. Ia hanya terlihat seperti parit panjang yang penuh sampah, dengan bau yang tak pernah sepenuhnya pergi.
Laporan Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta awal 2025 mencatat setidaknya 17 anak sungai dan saluran alami di Jakarta berada dalam kondisi stagnan total atau nyaris tidak mengalir. Beberapa di antaranya adalah Kali Cideng, Kali Gendong, dan Kali Baru Barat, yang dulu menjadi bagian penting dari jaringan air Jakarta.
Kondisi ini disebabkan oleh sejumlah faktor yang saling menumpuk: pendangkalan karena lumpur dan sampah, sedimentasi berat, serta penyempitan akibat bangunan liar di bantaran. Banyak kali kecil kini bahkan tertutup betonisasi jalan atau pembangunan komersial yang melanggar garis sempadan air.
Tak hanya itu, aliran air dari hulu banyak yang terganggu akibat perubahan tata ruang, penebangan vegetasi, dan konversi ruang terbuka menjadi permukiman. Dalam banyak kasus, air dari hulu tak lagi sampai ke hilir karena dialihkan ke saluran teknis, atau menguap di tengah perjalanan akibat terbuka dan dangkal.
Data dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) menunjukkan bahwa rata-rata debit aliran di anak-anak sungai Jakarta turun hingga 40% dalam 10 tahun terakhir. Sementara itu, kapasitas tampung banyak kali kini hanya sekitar 60% dari kondisi awalnya karena penyempitan.
Fenomena ini menandai hilangnya sirkulasi alami kota, yang dulu menjaga keseimbangan antara air permukaan dan tanah. Kali bukan sekadar tempat air lewat. Ia adalah sistem drainase alami, penyangga banjir, dan penyimpan air tanah jangka panjang.
Kematian kali-kali kecil ini berdampak langsung pada frekuensi genangan, terutama saat hujan deras. Karena air tak punya ruang mengalir, maka ia naik ke jalan, ke rumah, dan ke saluran lain yang tak siap menampungnya. Kota pun menanggung banjir bukan hanya karena curah hujan tinggi, tapi karena sistem air alaminya rusak total.
Upaya normalisasi dan naturalisasi belum menjangkau banyak titik ini. Proyek seringkali fokus pada sungai besar seperti Ciliwung atau KBT, sementara jaringan kecil yang sejatinya saling terhubung justru diabaikan.
Jika tak ada penanganan menyeluruh—dari hulu ke hilir, dari besar ke kecil—maka Jakarta akan terus kehilangan nadinya sendiri. Sebab kota yang mematikan aliran airnya, perlahan juga mematikan kemampuannya untuk bertahan hidup.

Komentar
Posting Komentar