Berapa Banyak Sampah Mengalir di Sungai Jakarta? Ini Temuan dari Data Volume Sampah Harian
Jakarta, 22 April 2025 Di
bawah permukaan air yang keruh dan arus yang tenang, sungai-sungai di Jakarta
menyimpan cerita lain: timbunan sampah yang terus bertambah setiap harinya.
Data terbaru dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengungkap fakta
mengejutkan—setiap hari, rata-rata 240 hingga 280 ton sampah diangkut dari
badan sungai di ibu kota.
Angka
itu bukan hanya statistik, tapi cerminan dari gaya hidup warga kota yang masih
jauh dari sadar lingkungan, ditambah sistem pengelolaan limbah domestik yang
belum optimal.
Sampah
Harian Sungai: Data yang Terus Naik
Data
DLH tahun 2023 mencatat bahwa total sampah yang berhasil diangkut dari
sungai-sungai utama di Jakarta mencapai lebih dari 87 ribu ton. Volume terbesar
tercatat pada bulan Desember, bertepatan dengan puncak musim hujan dan
peningkatan debit air sungai yang membawa serta sampah dari hulu.
Sungai
Ciliwung, sebagai salah satu aliran utama yang membelah Jakarta, menyumbang
sekitar 30% dari total sampah sungai yang diangkut. Disusul oleh Sungai
Pesanggrahan dan Kali Sunter. Jenis sampah yang paling dominan adalah plastik
rumah tangga (44%), diikuti oleh kayu dan ranting (22%), serta sampah organik
sisa makanan (15%).
“Yang
menyedihkan adalah sebagian besar sampah itu bisa dicegah masuk ke sungai kalau
pengelolaan di hulu—baik di rumah tangga maupun di pasar—berfungsi lebih baik,”
ujar Irwan Pratama, Kepala Seksi Pengelolaan Sampah DLH Jakarta.
Sungai
sebagai Korban Gagalnya Tata Kelola Sampah
Kondisi
ini mengindikasikan bahwa sungai-sungai di Jakarta masih berfungsi sebagai
saluran akhir pembuangan sampah—baik disengaja maupun tidak. Padahal, dengan
program Zero Waste Cities yang digaungkan beberapa tahun terakhir, idealnya
jumlah sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan bisa ditekan drastis.
Aktivis
lingkungan dari Koalisi Pemuda Jakarta Hijau, Rani Sari, menyoroti lemahnya
pendekatan edukasi dan penegakan hukum. “Kalau kita hanya mengandalkan petugas
kebersihan dan alat berat di sungai, ini hanya mengobati gejala, bukan akar
masalahnya,” ujarnya.
Menurut
Rani, masih banyak warga di bantaran kali yang membuang sampah langsung ke
sungai karena tidak memiliki akses yang layak ke fasilitas TPS (Tempat
Pembuangan Sementara) atau armada angkut sampah.
Solusi
yang Mengalir Setengah Hati?
Pemprov
DKI sebenarnya telah mengoperasikan puluhan river cleaning unit,
termasuk armada perahu dan alat berat pengangkut sampah sungai. Namun
efektivitasnya kerap terganggu oleh faktor cuaca, sedimentasi, dan lokasi
sungai yang sulit dijangkau.
Selain
itu, proyek revitalisasi sungai yang dilakukan di beberapa titik seperti di
Kali Item atau Kanal Banjir Barat lebih berfokus pada aspek visual dan
infrastruktur ketimbang sistematisasi pengelolaan sampah dari hulu.
“Revitalisasi
itu penting, tapi kalau sumber sampah di kampung-kampung tidak ditangani,
hasilnya hanya bersifat kosmetik,” kata Dedi Aryanto, peneliti tata kota dari
Universitas Trisakti.
Mengubah
Sungai Menjadi Cermin Peradaban
Sebagaimana
kota-kota besar di dunia yang mengelola sungai mereka sebagai wajah
peradaban—sebut saja Singapura dengan Sungai Kallang atau Seoul dengan
Cheonggyecheon—Jakarta pun seharusnya bisa.
Kuncinya
ada pada keterlibatan warga dan keterpaduan kebijakan lintas sektor:
lingkungan, pemukiman, hingga pendidikan. Tanpa perubahan perilaku kolektif dan
sistem pendukung yang kuat, sampah di sungai hanya akan menjadi rutinitas
musiman yang terus berulang.
Di
satu sisi, data sudah tersedia dan terang. Kita tahu sumber, jenis, bahkan
ritme naik-turunnya volume sampah. Tapi selama data hanya berakhir sebagai
dokumen, sungai-sungai kita akan terus jadi jalur limbah, bukan aliran
kehidupan.
Komentar
Posting Komentar